Tiba2 ingat kamu ketika membuka file2 di lappy dan menemukan email-email darimu… tapi hanya ingat saja, tidak ada keinginan untuk mencari tahu sedang apa dan bagaimana keadaanmu sekarang.

Sakit hati pasti ada, karena saya seorang manusia. Dan benar kata2 orang2, hanya waktu yang bisa mengobati sebuah “luka hati”. Lagipula memang belum waktunya untuk memasuki sebuah “dunia baru” yang ingin kau ciptakan, seperti dalam email yang kau kirimkan.

Subject : salah satu kisah dalam buku The Real Dezperate Housewives-nya Asma Nadia
Date:Fri, 15 Sep 2006 13:23:18

Kenapa Saya Menikah Muda?

Pembuka  di atas bukan dalam rangka nyombong. Lagian modal segitu mana bisa? Sesekali kalau lagi nyombong biasanya sih saya tambah ‘kecap’ (he. he.). Saya hanya memberi gambaran bahwa sebagai lajang saya cukup ‘sukses’. Menikah cepat tentulah bukan satu-satunya pilihan (kalau tidak bisa dibilang emoh), apalagi jadi target utama. Meskipun banyak loh teman-teman saya yang ‘kecentilan’ (meminjam istilah mbak Asma) jauh-jauh hari ikut kursus masak, jahit, seminar pernikahan, dan segala yang ‘berbau’ ‘percepatan’ jodoh (maaf ya sedikit nyelekit).

Tapi kalau akhirnya sebelum usia dua puluh dua tahun saya menikah, tentu bukan karena mengikuti trend sinetron Siti Nurbaya, apalagi dapat gelar MBA (Married By Accident). Naudzubillah min dzalik! Dari pernikahan kakak-kakak terlebih dahulu, saya paham betul Bapak dan Ibu sangat mudah ‘terpesona’ oleh laki-laki yang ulet dan ‘ghiroh’ Islamnya bagus. Dengan keyakinan bahwa jodoh memang rahasia Alloh dan ini adalah ibadah, saya pun bertekad (ditambah sedikit ‘nekat‘) menikah.

Bismillah.

Akhirnya. Di awal pernikahan saya diliputi sukacita bak mendapat teman baru yang ‘benar-benar baru’. Super baik, sangat perhatian, ulet mencari penghasilan, dan pintar computer. Untuk yang terakhir ini saya ‘fans berat’nya soalnya modal saya cuma ngetik dan main game. Tapi perjumpaan yang banyak manisnya itu tidak lantas menafikan perbedaan kami yang sering tidak sekadar berbenturan, tapi ‘bertabrakan’. Apalagi umur kami hanya terpaut satu setengah bulan dan sama-sama bungsu.

Si Dia dan Saya Bagai Langit dan Bumi

Awalnya saya ‘menyetel’ sikap pengertian. Apalagi saya mengakui untuk urusan yang ‘prinsip dan urgen,’ beliau sering lebih baik dari saya. Bulan-bulan perkawinan berikutnya saya bak memasuki lorong waktu, terlempar beberapa tahun ke belakang, di masa penjajahan (don’t worry! Ini bukan Sejarah yang ngapalin tahun-tahun, kok). Saya semasa gadis sempat menjadi artis (Ada Rumah TIdur Sembarang)-maksudnya karena kegiatan dakwah atau kampus sering terpaksa tidak menginap di rumah. Mengatur urusan-urusan “penting”. Tiba-tiba berurusan dengan ‘kesepelean’ rumah tangga, kunyit, merica, jahe, dan dunia ‘perbumbuan’ yang ‘aneh’.

‘Bakat’ bercanda saya pun tidak dapat tersalurkan bersama beliau yang sedikit ‘lugu’, pure, dan berfikiran cenderung ‘lurus-bersih.’ Kalau saya bercanda, ketawanya sering belakangan bahkan beberapa hari kemudian kalau baru kepikiran atau malah tidak merasa lucu (apa nggak gondok tuh?)

Saya orang yang cenderung perfeksionis, sementara beliau sedikit sembrono. Dia bisa nyaman-nyaman saja pakai kolor ijo eh celana ijo dengan atasan orens, nggak matching dengan pribadinya yang lumayan alim. Pernah liat orang ke kondangan atasan jas lengkap plus dasi, bawahnya sendal? Suami saya. Pernah liat orang jalan-jalan ke mall sendalnya yang kiri biru yang kanan hijau selain orang gila? Suami saya.

Tapi untuk bidang telekomunikasi dan informasi, beliau terbilang ‘canggih’. Kalau mau pergi, saya sudah hafal kapan dan berapa kali menelpon, SMS beserta isinya. Dimulai dari, “Assalamu’alaikum, saya lagi di perjalanan ke bandara,” lalu, “Halo, saya berangkat jam 11.00 naik pesawat…, ” lalu, “Halo, saya sudah di pesawat, ponselnya saya matiin ya…,” lalu, “Ma, baru nyampe nih, nanti saya kabari lagi ya,” dan seribu satu hallo-hallo yang lain.

Sempat deh saya gemes digituin. Tapi dengar cerita teman yang senewen nelepon sana-sini karena suaminya keluar kota ‘pelit’ ngasih kabar, duh…beruntungnya saya ini yang tidak perlu repot untuk dapat laporan langsung dan up to date ala Headline News. Untuk urusan ‘maniak’ nelepon saya ini, sering jadi ulasan ekonomi di keluarga besar kami (berat di pulsa, bo!).

Ngomong-ngomong soal Ekonomi, di bidang ini kami pun bak pinang dibelah banyak. Saya penganut prinsip “lebih baik mati berdarah daripada mati kelaparan.” Alhasil jadilah saya orang yang perhitungan sampai uang untuk sayur, ikan, sabun, rekening, amal, dll ditaruh di laci yang berbeda-beda, sementara beliau sedikit royal terutama soal selera akan. Senangnya kalo saya nitip dibeliin jilbab merah muda, maka yang nyampe di rumah adalah warna merah, kuning, hijau di langit yang biru. Mudah-mudahan deh ke depan-depannya gitu juga kalo saya minta dibeliin mobil dan rumah (mimpi kali yee…).

Sekali waktu saya minta tolong beliau mencabuti tanaman liar di halaman rumah. Hanya butuh beberapa menit, halaman jadi bersih dan bebas dari segala macam tanaman liar…berikut beberapa bunga kesayangan saya. Susah katanya ngebedain yang mana bunga yang mana bukan. Oh My God! Dari planet manakah gerangan dia datang? Hari itu saya ‘murka,’ tapi esoknya saya terharu melihat di halaman rumah pot-pot cantik tertata dengan bunga yang lebih bagus, lebih mahal, dan…banyak!

Ketika hadir the first girl kami, perbedaan itu makin menggambarkan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Makin banyak variasinya, tapi muaranya tetap satu…pusing! saya amat protektif, sementara dia mengasuh anak ‘ala koboy.’ Untuk urusan mempercayakan anak-anak pada bapaknya, saya agak ‘parno’. Pernah pulang-pulang anak laki-laki saya yang berumur dua setengah tahun, dua gigi depan atasnya pada posisi ‘bak hidup segan mati pun tak mau.’ Kalo berjlan gigi itu terlihat berayun. Maunya sih sekalian dicabut. Meski saya yakin dia akan lama menyandang gelar ompong. Soalnya gigi barunya bakalan nongol paling cepat kalau kelas satu SD.

Tapi saudara-saudara! Jangankan dicabut, diliatin aja anaknya sudah mewek pakai acara histeris lagi. Satu-satunya jalan adalah menunggu gigi itu tanggal sendiri atau kuat kembali. Dia jadi rewel dan trauma untuk minum apalagi makan. Badannya kurus. Alhamdulillah, setelah dua minggu giginya kuat kembali. Bisa dibayangkan penderitaan saya selama menunggu ‘keajaiban Alloh itu.’ mau tahu reaksi bapaknya? Konstribusi      mendukung penyembuhan sih ada. Namanya sedikit nyesel sih ada (barangkali). Tapi, kapok? Ih…jauh deh! Dengan entengnya beliau berdalih, untuk anak laki-laki itu malah jadi latihan agar tangguh dan gagah (Eh, emang ada orang ompong gagah? Gigi depan, lagi! Dua, lagi!).

Tapi jangan dikira latihan ‘ala militer’ itu untuk si adek laki yang memang agak ‘manis.’ Si sulung yang perempuan dan sudah rada-rada ‘gagah’ pun masih dapat materi tentang ‘gigi’. Kalau yang adek menggoyahkan dua gigi depan atasnya, yang sulung melibatkan ‘gigi’ motor bapaknya.

Ceritanya, si sulung duduk di depan bapaknya ketika beliau menstarter motor memasukkan gigi satu sambil mengawasi saya mengunci pagar. Tiba-tiba motor yang di gas kencang meraung, melompat, lalu si sulung yang baru lima tahun terlihat membonceng bapaknya dengan motor oleng dan rute zig-zag. Spontan saya ikutan lari dibelakangnya sambil berteriak panik. Untunglah Cuma beberapa meter sebelum akhirnya kendali motor berhasil direbut bapaknya. Nggak kebayang deh kalo saya mesti lari-lari sampai sekilo.

Dengan style seperti itu, jangan heran kalau dia masuk daftar bapak yang welcome untuk urusan mengasuh anak (kan jarang-jarang tuh ada bapak yang keibuan begini). Beliau tidak merasa terbebani. Senewennya saya, kedua anak saya lebih enjoy dengan bapaknya ketimbang mamanya. Mau bikin sequelnya Malin Kundang, nih. Kurang apa saya coba? Setiap membawa anak saya ke wahana bermain, persiapan harus matang. Dimulai dari pesan sponsor: “jangan dilepas tangan anaknya, jangan matanya piknik kemana-mana, liatin anak, jangan makan sembarangan, jangan minum es, jangan jajan di pinggir jalan, jangan…jangan…” Diakhiri dengan pemeriksaan bekal yang kudu lengkap. Air minum, susu, snack, minyak gosok, minyak telon, obat merah, plester luka, obat penurun panas, sapu tangan, jaket, topi, dan payung.

Selalu Saja Ada Hal-Hal Kecil Itu…

A little things means a lot, banyak hal kecil yang sesungguhnya berarti. Itu yang saya pahami sehingga saya tidak pernah (merasa) berharap lebih dari kewajaran. Eh.kadang-kadang luput juga dari perhatian beliau. Pernah saya memotong rambut bagusan dikit dari biasanya. Maksudnya sih biar beliau tidak boring lihat saya. Alhamdulillah, pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor beliau muji juga: “mama rambutnya baru ya.” Saya jawab saja, “Pa’, ini hari kesembilan Mama dengan rambut begini.Duh! “SIM, STNK, HP, kunci, berkas!” saya teriakkan pagi hari setiap kali beliau hendak ke kantor. Sekali saja saya tidak bilang, sekali itu pula dia akan lupa. Untunglah sekarang kedua anak kami sudah fasih menyanyikan ‘mars’ wajib itu sesekali kalau saya lupa. Bahkan burung nuri peliharaan kami pun ‘memaksakan’ diri menyerukannya bila saya lupa dan anak-anak masih lelap. Apalagi untuk urusan tetek bengek mematikan lampu, tv, kran air, mengunci pintu. Kalau mengharap dia, saya bagai ‘pungguk merindukan bulan.’

Meskipun saya ‘tertib’ dalam bertingkah laku, tidak demikian halnya dalam berpikir. Apalagi kalau lagi down dan beliau dalam status lengkap ‘koboy yang sembrono, boros, dan pelupa’ (duh, kali ini Mama minta maaf banget ya, Pa’). Saya jadi gampang ‘murka’ dan nyaris melupakan semua kelebihan-kelebihannya. Pernah terlintas satu kali dalam pikiran ‘terlarang’ saya: ‘seandainya barang, tentulah sudah saya ganti.’Usaha saya untuk tetap sinergis adalah perjuangan ‘berdarah-darah’.

Tapi kalo Ramadhan tiba, daftar kebaikan beliau bisa makin panjaaaang sekali. Kali-kali juga karena semangat berbakti pada suami sedang saya kobarkan (mujinya pake acara nggak ikhlas segala, he…he…he…). Mulai dari nungguin waktu sahur beliau yang paling siaga. Lalu usahanya supaya saya ikutan lail sampai jatuh bangun (maksudnya saya kalau sudah dibangunkan jatuh tertidur lagi, berulang kali). Sampai menyemangati saya lebih rajin tadarrus. Malah lebaran lalu, kami makan opor ayam ala suami saya karena saya ngebut mengkhatamkan Al Qur’an baru pada hari terakhir puasa. Enak, kan? Sulung saya saja bilang, “Ma, makan opor ayam rasanya kayak permen itu rame rasanya…, hi..hi..

Mertua vs menantu juga tidak ada dalam kamus saya. Padahal saya menantu yang tidak baik-baik amat. Mertua saya pun bukan mertua sempurna (ssstt!). ada tuh menantu yang dibenci (soalnya kata “dilaknat” pamali tuh) ada dalam buku-buku sweetynya Mbak Asma. Tapi saya merasa betul sebagai menantu yang disayangi malah sedikit dihormati (duilee…segitunya). saya yakin, ‘kemesraan’ itu tentulah karena campur tangan suami.

Kami seperti dua sisi mata uang yang beda dan tak pernah berhadapan tapi membentuk sesuatu yang bernilai. Berbeda, tapi saling melengkapi. Bukan sama sekali tetang si baik dan si buruk, si perfek dan si sembrono, si protektif dan si koboy. Bukan pula the beauty and the beast. Sebab tidak mungkin kami berjalan sendiri-sendiri menuju keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amiin.

Lagi pula, saya memang tidak pernah punya cukup keberanian membuang rasa malu untuk meminta kepada-Nya lelaki yang sempurna. Sebab saya pun jauuuh dari sempurna. Dan kalau akhirnya Alloh mengirimkan saya suami yang ghiroh beragamanya bagus, ulet mencari penghasilan, mencintai saya, lalu kemudian dua anak amazing buat saya, apalagi? Maka, nikmat Rabbmu yang mana yang kamu dustakan?

Positive thinking for The Happiness

Meskipun perkawinan kami tdak melulu manis, saya menikmatinya. Sumpah! Sebab kita akan lebih menikmati manisnya manis kalau pernah mengalami pahitnya pahit. Betul, tidak? (kayak si Aa aja). Tentu saja tidak seperti iklan coklat: begitu dimakan, lumer di mulut, nikmaaat terasa. Insiden-insiden kecil itu saya nikmati setelah ‘cooling down.’ Syukur deh saya tidak pernah merasa basi dan kelamaan nunggu dapat nikmatnya. Yap! Tahu kan yang namanya hikmah? (bukan si Hikmah anak haji Dullah). Itulah tips (baca: doping) yang menguatkan saya. POSITIVE THINKING, melihat semua dari sisi baiknya dan AMBIL HIKMAHNYA. Kalau pikiran masih kusut juga, saya kembali mengingat KOMITMEN AWAL MENIKAH ADALAH IBADAH. Makin banyak sandungan yang saya lalui, tentu makin banyak pahala yang saya dapat. Nyess.! Seketika kepala dan seluruh tubuh saya bagaikan dialiri air, dingin, sejuk, dan mendamaikan. Nggak percaya? Coba aja dulu!

Hanya yang kusesali karena kau melakukannya tanpa memberi kabar, berita, tanda or whatever. Kau-hanya-melakukannya-begitu-saja, tiba-tiba, tepat pada hari ulangtahunku (akad nikahmu 19082007) :cry:, mendengar berita itu (dari Kakak tingkatku, salah seorang sahabatmu) saya tiba2 blank and just can take a deep breath, walaupun sebenarnya saya (amat sangat ingin) agar kamu merubah pilihanmu, hal-yang-amat-sangat-mustahil.

kata2 ini yang ingin kuteriakkan padamu hari itu 😕

Beruntungnya “dia” bisa memasuki “dunia” itu denganmu yang menurutku 99,9% angel, mungkin itu pula yang membuatku tidak bisa “berjalan bersisian denganmu” karena “komposisi”ku yang 20% angel, 80% evil.

Mungkin dari situ pula Dia menginginkan supaya saya belajar memperbaiki diri, karena seperti firmanNya:

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji  (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” (Qs. An Nur : 26)

Sudah jelas dalam peraturanNya bahwa pasangan itu harus seimbang, dan nyata sekali kalau tutur kata, perilaku, terlebih lagi pengetahuan agamaku berbanding terbalik denganmu, seperti langit dan bumi. Yah… Dia memang Maha Adil, dan sungguh suatu ketidakadilan apabila Ia memberikan seseorang yg penuh cinta kasih, jika kita sendiri masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tapi kita sendiri masih kejam, atau seseorang yg mudah mengampuni tapi kita sendiri masih suka menyimpan dendam, seorang yg sensitif namun diri kita sendiri tidak…

Dia akan memberikan “apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan”. Dia tidak memberi pasangan yang sempurna kepada kita, tetapi seseorang yang tidak sempurna sehingga kita tumbuh bersamanya.

Kata seorang temanku, carilah yang sekufu.

Kufu’ berarti sama, sederajat, sepadan, atau sebanding.
Ibn Hazm berpendapat tidak ada ukuran-ukuran kufu’. Ia berkata “Semua orang Islam, asal saja tidak berzina, berhak menikah dengan semua wanita muslimah dan dengan syarat tidak tergolong perempuan penzina. Semua orang Islam adalah bersaudara. Kendatipun ia anak seorang hitam yang tidak dikenal, umpamanya, ia tidak dapat diharamkan menikah dengan anak Khalifah bani Hasyim.”

Segolongan ulama berpendapat bahwa persoalan kufu’ perlu diperhatikan, tetapi yang menjadi ukuran kufu’ ialah sikap hidup yang lurus dan sopan, bukan dengan ukuran keturunan, pekerjaan, kekayaan dan sebagainya.
Jadi, seorang lelaki yang shalih, walaupun keturunannya rendah, berhak menikah dengan wanita yang berstatus sosial tinggi, begitupun sebaliknya.
Akan tetapi, kalau lelakinya bukan dari golongan orang yang berbudi luhur dan jujur dalam hidupnya, dia tidaklah se-kufu’ bagi perempuan yang shalihah.
Jika kita rangkumkan pendapat-pendapat ahli agama, maka terurailah benang merah bahwa makna kufu’ hanyalah dari segi agamanya saja.

Mungkin itu juga salah satu pertimbanganmu waktu itu, mencari yang sekufu dari segi agama. Dan saya (amat sangat) tidak sepadan dengan dirimu jika dinilai dari sisi itu.

Dari caramu memilih pendamping hidup, dari caramu berkenalan, dari caramu untuk mengenal orang yang akan menggenapkan separuh dienmu, terlihat tujuanmu bahwa menikah adalah untuk ibadah, berbeda dengan diriku yang berpikiran “saya siap menikah denganmu karena merasa cocok denganmu, dan yang terpenting saya menyukaimu”. See??? dari segi pemikiran saja kita bertolak belakang sama sekali…. huffttt….

Menikahlah Karena Alasan yang Benar
Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhaar mengungkapkan bahwa ada 5 (lima) sebab mengapa pernikahan menjadi sesuatu yang disyariatkan dalam Islam :
1.Untuk menjaga agama. Ia hendaklah mampu menjaga agama kita, tidaklah kemudian malah menggoyahkan atau malah membuat kita menjadi tak lagi menggengamnya. Mengingatkan ibadah yang lalai, hati yang lupa, dan menguatkan perjuangan menegakkan kalimah-Nya.

2.Untuk menjaga akal. Ia hendaklah punya semangat belajar, berusaha menempatkan ilmu sebagai dasar dari segala tindakan dan ucapannya, sehingga menjadi semakin bernilailah setiap amal perbuatan. Bukanlah tanpa alasan, para ulama sekelas Imam Bukhari dan Muslim, misalnya, menempatkan bab Ilmu menjadi bagian pertama dalam kitab Shahihnya.

3.Untuk menjaga jiwa. Ia hendaklah mampu menghadirkan rasa aman terhadap jiwa pasangannya, melindunginya dari gangguan dan bahaya, memberikan ketentraman dalam relung qalbu, menerbitkan cahaya pada cita dan asa kehidupan.

4.Untuk menjaga harta benda. Ia hendaklah mampu menjaga harta, tidak menghamburkannya untuk sesuatu yang sia-sia, tidak terlalu royal, tapi juga tidak jatuh kedalam jurang kekikiran.

5.Untuk menjaga keturunan. Ia hendaklah mampu melahirkan dan membina keturunan yang kuat akal dan fisiknya. Tidak lemah harapan dan tekadnya. Tahu pula cara mendidiknya, menjadi madrasah pertama mereka, dan mengantarkan mereka dekat pada Tuhan-nya.

Dari 5 (lima) alasan itu, bisalah kemudian kita mengambil kriteria calon pasangan yang hendak kita pilih mengawal, menemani, menyejukkan dan menjaga kita di sisa usia kita di jalan-Nya. Dan dapatlah pula kita mengevaluasi dan menghisab diri, sudah pantaskah kita menjadi pasangan sejati karena lima sebab itu sudahlah ada di diri kita.

Jelas sekali saya tidak memenuhi 5 hal tersebut 😦 ….

Hari-hari setelah itu, semuanya terasa mimpi buruk… Sick of crying, tired of trying. So I’m smiling, but inside I’m dying, yang kulakukan hanyalah mencari cara melupakan kamu, dari mencari “replacement” sampai hal-hal bodoh lainnya. I’m so damn stupid :!:.

Waktu berjalan terus, saya belum juga bisa mengambil hikmah dari “kepergianmu”.

Begitu banyak kejadian berlalu, begitu banyak kebodohan yang kulakukan,  sampai saya berada di titik terendah.

Saya merasa ketakutan, merasa tidak tahu apa yang akan saya lakukan dengan hidup saya.  Saya merasa sesak, sampai merasa ingin hilang dari permukaan bumi. Dan satu2nya hal yang kuinginkan hanyalah membagi ceritaku denganmu… 😦

keinginan yg sulit tercapai karena kamu sdh jadi milik orang 😛


pemikiranku (dulu) saya akan tetap seperti ini, tapi ternyata saya bisa menghapus perasaan itu. Thanks God.

Butuh waktu yang lama to being a normal person setelah semua itu. Saya tidak akan menyalahkanmu atas apa saya yang sekarang ini, karena kamu sudah melakukan yang benar, sayalah yang tidak bisa mengambil hikmahnya. Semuanya hanya bermula dari situ… dan sekarang saya sudah belajar , dan berusaha menyelesaikan masalah-masalah hidup saya satu persatu, step by step

hope so…

Terimakasih karena menjadi bagian dari hidup saya, dan mengajarkan hal-hal baik (walaupun saya terlambat menyadarinya, hampir 3 tahun 😛). Satu hal yang tetap menjadi tanda tanya sampai saat ini, siapa yang akan mewujudkan “niat baik” itu, dan bersama denganku memasuki “dunia baru” seperti yang kau gambarkan dalam cerpen yang kau kirim bersama emailmu.

–manado, kamis, pukul 2.25 dinihari WITA–

Ia hendaklah punya semangat belajar, berusaha menempatkan ilmu sebagai dasar dari segala tindakan dan ucapannya, sehingga menjadi semakin bernilailah setiap amal perbuatan. Bukanlah tanpa alasan, para ulama sekelas Imam Bukhari dan Muslim, misalnya, menempatkan bab Ilmu menjadi bagian pertama dalam kitab Shahihnya.
Advertisements